Inggit Garnasih Pahlawan Nasional yang Tak Kunjung diakui

Foto : Inggit bersama Bung Karno.


DPDGMNISULTRA.ID | Pada tanggal 7 Februari 1980, mantan Gubernur DKI Bang Ali bertamu ke rumah Bu Inggit. la mengerahkan kemampuan bahasa Sunda halusnya (Bang Ali adalah menak atau bangsawan Sunda dari Sumedang) untuk menanyakan kesediaan Bu Inggit menerima Fatmawati. Di luar dugaan, urusannya ternyata mudah. Bu Inggit mempersilakan, maka terjadilah pertemuan pertama dalam 38 tahun bagi kedua istri Bung Karno tersebut.


Fatmawati berkali-kali bersimpuh dan mencium kaki Bu Inggit memohon maaf sambil menangis. la juga menyuruh putrinya, Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri dan putra bungsunya Guruh Soekarno, melakukan hal yang sama. Bu Inggit lantas menjawab "Indung mah lautan hampura” (Ibu ini lautan maaf) sembari mengelus dan menciumi rambut Fatmawati serta putra-putrinya.


Namun Bu Inggit juga mengingatkan agar ke depan, jangan sampai mencubit orang lain kalau tak ingin dicubit, karena dicubit itu rasanya sakit. Niat baik Fatmawati meminta maaf kepada ibu angkatnya menjadi penyucian diri.


Hanya tiga bulan sesudahnya, pada 14 Mei 1980 Fatmawati berpulang setelah menunaikan umrah.


Pada tanggal 27 November 1982 terjadi lagi pertemuan mengharukan, kali ini tiga janda Bung Karno bertemu. Ratna Sari Dewi (Naoko Nemoto) dan Hartini menemui Bu Inggit yang tengah terbaring sakit. Dewi dan Hartini yang dulu paling sengit bersaing nampak rukun, dan keduanya mengakui ketokohan Inggit. Sayang tidak banyak percakapan yang berlangsung karena kondisi Bu Inggit sangat lemah, Namun ia tetap kelihatan senang dengan kunjungan istimewa itu.


Bu Inggit adalah tokoh teladan dari era perjuangan kemerdekaan yang belum mendapatkan gelar pahlawan nasional yang menjadi haknya.


Bu Inggit adalah sosok yang memberi dan memberi, tanpa mengharapkan kembali. Betapa tidak, dari 19 tahun pernikahan, 9 tahun di antaranya dihabiskan di pembuangan dan hampir 3 tahun Inggit ditinggal Soekarno yang mendekam di penjara. 7 tahun sisanya dihabiskan dengan bermain kucing-kucingan melawan para intel Belanda, di tengah kesibukan mencari uang sendiri guna membiayai perjuangan sang suami. Kapan senangnya Bu Inggit? Istri mana yang mau dan mampu menanggung pengorbanan sebesar itu?.


Inggit Garnasih Soekarno wafat pada tanggal 13 April 1984 dałam usia 96 tahun. Tidak ada penghormatan khusus dari pemerintah pusat maupun daerah baginya. Namun para tetangga di Jalan Ciateul dan sekitarnya tanpa ada yang mengkoordinasikan serentak mengibarkan bendera merah putih setengah tiang. Saat jenazah dibawa ke pemakaman, mereka dan sejumlah warga Bandung lainnya memenuhi tepi jalan guna memberikan penghormatan terakhir.


Dari buku: "UNTUK REPUBLIK" Kisah-kisah Teladan Kesederhanaan Tokoh Bangsa.

Posting Komentar

Sikahkan Komentar dengan baik dan beretika!!!

Lebih baru Lebih lama